Wednesday, 28 October 2015

Tanda kehamilan Awal



Mempunyai buah hati yang lucu dan menggemaskan pastilah menjadi dambaan setiap pasangan pengantin baru. Karena salah satu tujuan pernikahan adalah untuk mempunyai keturunan dan meneruskan generasi. Hal itulah yang menyebabkan sebagian besar pasangan pengantin baru akan segera memulai program kehamilan setelah menikah.
            Terkadang, karena terlalu asiknya menikmati bulan-bulan awal pernikahan, jarang yang menyadari bahwa telah ada bakal janin pada rahim seorang istri. Ketidaksadaran tersebut juga dikarenakan oleh minimnya pengetahuan tentang kehamilan karena belum pernah mempunyai pengalaman menjalani kehamilan. Berbeda dengan wanita yang pernah menjalani kehamilan sebelumnya. Dimana, dia akan segera sadar ketika ada tanda-tanda kehamilan awal karena pernah mengalami sebelumnya.
            Bagi yang belum pernah mengalami sebelumnya, di bawah ini ada beberapa tanda kehamilan awal yang sering terlihat ketika ada bakal janin di rahim seorang wanita :

Thursday, 8 October 2015

Hidup Tanpa Media Sosial, Mungkinkah?


Aku dulu sering ketawa saat nenekku menjawab satu pertanyaan dariku "Kenapa orang jaman dahulu anaknya banyak-banyak?"
Sontak nenekku langsung menjawab polos "Jaman nenek dulu gak ada televisi. Jadi, satu-satunya hiburan tiap mala ya 'begituan'. . . "

Beberapa tahun lalu aku masih bisa menertawakan jawaban nenek yang kuanggap lucu yang bercampur dengan sedikit tabu. Namun sekarang, setelah menikah, aku tak lagi bisa menganggap lucu jawaban itu. justru itu memberi inspirasi bagiku untuk hidup dengan meminimalkan sosial media.
Sosial media? Apa hubungannya?

Wednesday, 7 October 2015

Man Are From Mars And Women Are From Venus






Oktober. . . . .
Genap satu tahun kami menikah. 19 oktober 2014 adalah moment yang paling bersejarah dalam perjalanan hidup kita. Saat ucap janji lantang terdengar di depan orang tua, wali, saksi dan para tamu undangan. Kami sah menjadi sepasang suami istri. Mulai detik itu, tidak ada lagi kata "aku" ataupun "Kamu". Karena semua telah melebur menjadi kata "Kita".

Benar apa yang dikatakan banyak orang. bahwa menikah seperti berjalan menuju sebuah gunung.

Friday, 15 May 2015

CERBUNG : SUJUD CINTAKU DI MIHRAB TAAT (17)





....... Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia (Dee) ........


            “Dengerin gue, Do.! Bukan maksud gue buntutin Lo sama cewek Korea tersebut. Sumpah demi apapun.! Gue ga sengaja.!”
            Dengan nada sedikit berbisik namun tegas karena takut terdengar oleh Elen dan yang lainnya, Arinda mencoba menjelaskan alasannya. Namun aku tidak percaya begitu saja. Aku membuang muka. Separuh agak marah. Separuhnya lagi agak heran. Kenapa tiba-tiba Arinda tahu semua tentang Yong Mi.
            “sejauh apa yang Lo tau tentang Yong Mi.”
            “Yong Mi hamil karena Lo. Dan dia ke Jakarta buat menuntut tanggung jawab Lo.”
            Aku menatap Arinda dengan tatapan tajam. Mataku merah. Nafasku agak memburu. Iya. Aku agak sedikit marah dengan sikap Arinda yang menurutku telah terlampau jauh mencampuri urusanku.
            “Sumpah Do.! Gue ga sengaja. Siang itu, gue diminta menjemput klien tante Ana di bandara. Karena menunggu jemputan agak lama, gue ngajak mereka minum sebentar di kafe dekat bandara. Kafe yang sama ketika Lo berdua ngobrol sama . . . .”
            “Yong Mi.”

Tuesday, 12 May 2015

CERBUNG : SUJUD CINTAKU DI MIHRAB TAAT (16)





....... Batas antara cinta dan keegoisan memang pudar, bias, bahkan nyaris tak terlihat ........


            “Do, Edo. . . . Kenapa melamun?”
            Aku melambaikan telapak tangan di depan muka Edo. Namun tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari segelas jus jeruk yang sejak tadi tak sedikitpun disentuhnya.
            “Do. . . .”
            Wajahnya sempurna membeku. Tatapannya bias. Sepintas terlihat kosong, namun aku yakin ada fikiran yang menyesak. Baiklah. Aku memutuskan menunggu sampai Edo sadar dengan lamunannya.
            Semenit. Dua menit. Tiga menit. Hingga sekian menit kemudian pandangannya tak beralih sedikitpun. Hingga tiba-tiba.
            “Elen, kita menikah sekarang. Hari ini juga. Kamu siapkan saksi. Aku siapkan mahar dan penghulunya.”
            Aku menelan ludah. Sedikit tersedak karena kalimat Edo yang tiba-tiba keluar dari goanya tak pernah terbayangkan sedikitpun olehku.

CERBUNG : SUJUD CINTAKU DI MIHRAB TAAT (15)




……. Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang cinta), semua itu hanyalah kulit. Sebab, inti dari cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan --Jalaluddin Ar-Rummi--  …….


            “Maafkan aku, Yong Mi. Selama aku diJ akarta, aku tidak mengaktifkan ponselku. Sehingga membuatmu harus repot-repot menyusulku ke Jakarta.”

            Yong Mi diam. Tak menjawab. Jelas sekali terlihat perasaan lelah yang tak bisa dia sembunyikan dari wajahnya. Perjalanan Seoul-Jakarta yang kurang lebih memakan waktu tujuh jam perjalanan udara, membuat rasa letih menggelayut di wajah ayunya.

            “Song Seung Hun, kau apa kabar?Sepertinya kau bertambah kurus.”

            Pipinya terlihat agak merah menggelembung. Sebuah pertanyaan yang aku tau, hanyalah sekedar basa-basi sederhana ketika hampir dua bulan lebih kita tidak bertemu. Atau, lebih tepatnya, kita nyaris tidak pernah berinteraksi lewat apapun.

            “Yong Mi, kau lupa?”

            Mataku mengerjap. Berharap Yong Mi ingat bahwa aku tidak terlalu suka jika dipanggil dengan nama Song Seung Hun.

            “Oh, maksudku Edo.”

            Jelas sekali Yong Mi manahan malu.

            “Edo, kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana keadaanmu?”

CERBUNG : SUJUD CINTAKU DI MIHRAB TAAT (14)





 ……. Ada kalanya, hidup bukanlah sebuah masalah yang harus dipecahkan. Melainkan sebuah kenyataan yang harus dihadapi …….


            “Apa kau bilang? Kang Yong Mi sedang dalam perjalanan ke Jakarta?”

            “iya. Baru saja lima menit yang lalu pesawatnya berangkat.”

            “Dong Jung, kau jangan bercanda.”

            “Song Seung Hun, kau lihat jam di dinding kamarmu. Jam berapa sekarang?. Kau pasti belum bangun. Sekarang aku masih di bandara. Tadi Yong Mi memintaku mengantarnya di bandara.”

            Aku menguap malas. Melirik ke arah jam dinding di kamarku. Pukul 08.05. Di Seoul sekarang pukul 10.05. Dua jam lebih cepat daripada waktu Indonesia bagian barat.

            “Berapa kali kubilang, jangan panggil aku Song Seung Hun. Cukup sulitkah untuk mengucap nama asliku?. Edo.”

            Aku menghembuskan nafas kesal dengan sikap Kyung Dong Jung yang sepagi buta ini menelphonku. Ditambah lagi memanggilku dengan nama korea yang tidak aku suka. Song Seung Hun. Mentang-mentang potongan rambutku mirip artis korea yang bernama Song Seung Hun, pemeran Chui Joon Suh dalam serial drama korea ‘Endless Love’.

            “Baiklah, baiklah. Oppha Seung Hun. Eh? Maksudku Kakak Edo.”